knifles
07-17-2008, 12:36 AM
CINTA
by Isye Paruntu, Jakarta
Dalam keheningan senja temaram sinarnya
diriku yang tua renta berbalut keriput di wajah
mengenang saat ketika musim gugur tiba
berulang kali kenangan itu menyengat
serasa semenjak kecil bertemu dalam naluri
yah.. Benar.
sejak aku mengerti dunia alam sekitar
ditakdirkan untuk menyelusuri dan mencari
kehangatan yang sudah lama hadir
terkirim oleh sinar mentari di ufuk timur
berbinar ceria membentang cahaya kehidupan
lembutnya hembusan nafas hidup diriku
bak lantunan suara musik dalam lamunan
kunikmati dengan mata terpejam
kutersenyum manis merasakan aliran khayalan
kekuatannya melintasi cakrawala semangat
menembusi lapisan atmosfir keinginan
namun, aku pasrah pada takdir
taat pada yang empunya kehidupan
generasi berikut hadir di didepan
dan aku semakin keriput menyusut
berlalu bersama lewatnya musim gugur
musim berganti lewat dan terus lewat
tetap tak mampu menepis rasa itu
hangatnya selalu tetap hadir
kunikmati selalu dari waktu ke waktu
daun bambu bergesekan menimbulkan musik indah
cemara berdesir menghamburkan aroma merasuk jiwa
tegak kokoh bak gunung keteguhan
demikianlah semua tinggal tetap
dan musim pun berganti terus, kembali menjelang
aku duduk tepekur di kursi goyang
jasmani bertambah renta, mataku semakin rabun
langkah kakiku mulai lamban
gema percikan api dipojok sana
sedari tadi menemani diriku
hangatnya perlahan mulai hilang
sinarnya berangsur padam
tinggal lentera itu yang menemani ku di gelapan malam
udara disekitarku mulai terasa dingin
selimut tua kurapatkan erat-erat
jauh dilubuk hatiku, tetap hadir terang kasih
pijarnya menghadirkan kehangatan yang tak pernah padam
tak kan pernah .. Selamanya
karena tinggal itu lah yang tersimpan
hanya itu yang kumiliki, kusimpan,
tinggal itulah kekuatan yang masih ada
itulah CINTA
aku sadar dunia akan tiba
pada akhir hidup nya
segala unsur akan lenyap
tapi CINTA, tak kan pernah lenyap
oh CINTA jangan pernah tinggalkan aku
jangan pernah ada yang mengambilnya kembali
karena.....
hanya CINTA yang menunggui diriku
saat helaan nafas terakhir ku hembuskan
by Isye Paruntu, Jakarta
Dalam keheningan senja temaram sinarnya
diriku yang tua renta berbalut keriput di wajah
mengenang saat ketika musim gugur tiba
berulang kali kenangan itu menyengat
serasa semenjak kecil bertemu dalam naluri
yah.. Benar.
sejak aku mengerti dunia alam sekitar
ditakdirkan untuk menyelusuri dan mencari
kehangatan yang sudah lama hadir
terkirim oleh sinar mentari di ufuk timur
berbinar ceria membentang cahaya kehidupan
lembutnya hembusan nafas hidup diriku
bak lantunan suara musik dalam lamunan
kunikmati dengan mata terpejam
kutersenyum manis merasakan aliran khayalan
kekuatannya melintasi cakrawala semangat
menembusi lapisan atmosfir keinginan
namun, aku pasrah pada takdir
taat pada yang empunya kehidupan
generasi berikut hadir di didepan
dan aku semakin keriput menyusut
berlalu bersama lewatnya musim gugur
musim berganti lewat dan terus lewat
tetap tak mampu menepis rasa itu
hangatnya selalu tetap hadir
kunikmati selalu dari waktu ke waktu
daun bambu bergesekan menimbulkan musik indah
cemara berdesir menghamburkan aroma merasuk jiwa
tegak kokoh bak gunung keteguhan
demikianlah semua tinggal tetap
dan musim pun berganti terus, kembali menjelang
aku duduk tepekur di kursi goyang
jasmani bertambah renta, mataku semakin rabun
langkah kakiku mulai lamban
gema percikan api dipojok sana
sedari tadi menemani diriku
hangatnya perlahan mulai hilang
sinarnya berangsur padam
tinggal lentera itu yang menemani ku di gelapan malam
udara disekitarku mulai terasa dingin
selimut tua kurapatkan erat-erat
jauh dilubuk hatiku, tetap hadir terang kasih
pijarnya menghadirkan kehangatan yang tak pernah padam
tak kan pernah .. Selamanya
karena tinggal itu lah yang tersimpan
hanya itu yang kumiliki, kusimpan,
tinggal itulah kekuatan yang masih ada
itulah CINTA
aku sadar dunia akan tiba
pada akhir hidup nya
segala unsur akan lenyap
tapi CINTA, tak kan pernah lenyap
oh CINTA jangan pernah tinggalkan aku
jangan pernah ada yang mengambilnya kembali
karena.....
hanya CINTA yang menunggui diriku
saat helaan nafas terakhir ku hembuskan